(0341) 511802 - 592766 miftahul.ulum.batu1927@gmail.com
Select Page
  1. PERIODE I (TH. 1926-1927)

 

Seiring dengan lahirnya Jam’iyah Nahdlotul Ulama di awal tahun 1926 oleh Hadratus Syeh KH. Hasyim Asy’Ari, tersebarlah para santriwan santriwati beliau yang terdiri dari para Ulama’ untuk menyebarluaskan ajaran Ahlus Sunnah Waljama’ah di penjuru tanah air ini, termasuk di Kota Batu ini. Kota dingin daerah pegunungan tak terlepas dari jangkauan para Ulama sebagai sasaran perjuangan mengembangkan ajaran Islam Ahlus Sunnah Waljama’ah.

Tepat pada tanggal 1 Januari 1927 Jama’ah Nahdlotul Wathon Batu mendirikan madrasah yang diberi nama “Madrasah Nahdlotul Wathon” yang pada saat itu tempat belajarnya di Langgar (Surau) dan di rumah Ibu Hj. Kamah. Ada lima puluh anak yang semuanya laki-laki yang menjadi murid dari Madrasah Nahdlotul Wathon dan dididik serta dibina oleh beberapa orang guru, diantaranya Bapak Abd. Manan, Bapak Muchid dan Bapak Ahyar. Keadaan pembelajaran seperti ini kira-kira berlangsung sampai dengan akhir tahun 1929.

 

 

 

  1. PERIODE II (TH. 1930-1934)

 

Awal tahun 1930 Madrasah Nahdlotul Wathon berubah nama menjadi “Madrasah Nahdlotul Ulama” dengan kondisi keadaan muridnya masih terdiri dari anak laki-laki saja. Kemudian dewan gurunya sudah berkembang tidak hanya dari Batu tetapi dari luar kota pun ikut andil dalam perjuangan mengembangkan pendidikan di Madrasah Nahdlotul Ulama, diantaranya Kyai Zaid dari Jombang, KH. Nor dari Singosari, Kyia Machful dan Kyai Ilyas dari Batu.

Pembelajaran menulis dan membaca di dua periode ini hanya menggunakan huruf Arab (Hijaiyah).

 

 

  1. PERIODE III (TH. 1935-1939)

 

Perkembangan Madrasah Nahdlotul Ulama Batu semenjak didirikan sampai awal tahun 1935 dicatat semakin meningkat sekalipun masih berada di Surau dan di rumah. Hal ini menjadi pemikiran tersendiri bagi para tokoh Ulama Batu bagaimana bisanya memiliki gedung sekolah.

Akhirnya, ada dua Srikandi, yaitu Almaghfurullah Ibu Hj. Siti Chodijah dan Ibu Hj. Juki mewaqofkan sebidang tanah dan gedungnya yang berada di Jalan KH. Agus Salim No. 6 (saat ini) untuk dijadikan gedung “Madrasah Nahdlotul Ulama”. Kemudian, Dewan Gurunya bertambah yang didatangkan dari luar kota, antara lain Kyai Ilyas, dari Juono (Jawa Tengah) yang saat itu diangkat sebagai Kepala Sekolah. Kemudian Kyai Bakir, Kyai Mujaiyin, Kyai H. Cholil dari Pandean Malang.

Dan agar para Kyai yang diberi amanat perjuangan di Madrasah Nahdlotul Ulama Batu ini tetap berdomisili di Batu maka para Tokoh Ulama Batu ini berupaya agar para Kyai dari luar kota ini mendapat jodoh di Batu.

Kemudian perlu menjadi catatan bahwa awal berdirinya gedung “ Madrasah Nahdlotul Ulama” yang saat ini “Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum” adalah di tahun 1935.

 

  1. PERIODE IV (TH. 1940-1942)

 

Pada perkembangan periode keempat ini, “Madrasah Nahdlotul Ulama” mengalami peningkatan pemikiran dengan mengawali menerima murid anak-anak wanita dan dimulainya memberikan pembelajaran menulis dan membaca huruf latin. Sehingga saat itu murid-murid “Madrasah Nahdlotul Ulama” terdiri anak laki-laki dan wanita, yang masing-masing dikelompokkan sesama jenis dan sudah mulai belajar baca tulis huruf latin. Sehingga huruf Arab dan huruf latin sudah menjadi kebutuhan bagi murid-murid di Madrasah Nahdlotul Ulama.

Adapun pada tahun 1940 ini diangkatlah Bapak H. Moh. Sahal sebagai Kepala Sekolah kedua yang didampingi oleh Dewan Guru, antara lain Bapak H. Ma’sum, Kyai Munif dan Bapak H. Sya’roni.

 

 

  1. PERIODE V (TH. 1943-1954)

 

Perjalanan “Madrasah Nahdlotul Ulama” dari tahun 1943 sampai tahun 1954 mengalami peningkatan baik jumlah murid laki-laki maupun jumlah murid wanita. Sehingga waktu pembelajaran dibedakan untuk pagi hari murid laki-laki yang belajar dan murid-murid wanita pada sore hari.

Dewan Gurunya pun terdiri dari Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu, diantaranya, Bapak Moh. Usin diangkat sebagai Kepala Sekolah ketiga, Bapak Shodiq, Bapak Fakih Abd. Rohman, Ibu Suwarni, Ibu Mastikah, Ibu Asmah, Ibu Chasanah dan Ibu Aminah.

  1. PERIODE VI (TH. 1955-1958)

 

Keberadaan “Madrasah Nahdlotul Ulama” di tahun ini tetap berjalan dengan lancar sekalipun mulai terjadi kendala, antara lain jumlah guru menurun, tinggal empat orang, yakni Bapak Faqih Abd. Rohman sebagai Kepala Sekolah keempat yang hanya didampingi oleh Bapak Farchan Asyik dari Gondang Legi, Bapak Mustaqim Machful dan Bapak Moh. Luthfie.

 

 

  1. PERIODE VII (TH. 1959-1962)

 

Setelah nama “Madrasah Nahdlotul Ulama” sudah melekat dihati masyarakat khususnya umat Islam Batu, kemudian melihat situasi Negara di saat itu nama Madrasah kurang mendapat perhatian akhirnya pemikiran para pengurus MWC NU saat itu berinisiatif merubah nama “Madrasah Nahdlotul Ulama” menjadi Sekolah Rakyat Nahdlotul Ulama (SRNU) dan diangkatlah Bapak Moh. Luthfie sebagai Kepala Sekolah kelima yang didampingi beberapa guru diantaranya Bapak Achmad, Ibu Mursilah, Bapak Muzamil Munif. Jumlah murid ada 75 anak dan mulai berlakunya anak laki-laki dijadikan satu atau dicampur dengan anak-anak wanita.

“Sekolah Rakyat Nahdlotul Ulama” tidak berusia lama dan berubah nama lagi menjadi “Madrasah Wajib Belajar Nahdlotul Ulama” kemudian dirubah kembali menjadi “Sekolah Dasar Nahdlotul Ulama” (SDNU).

 

 

  1. PERIODE VIII (TH. 1963-1965)

 

Nama “Madrasah Wajib Belajar Nahdlotul Ulama” yang sudah berubah menjadi “Sekolah Dasar Nahdlotul Ulama” hanya berusia 3 tahun. Pada awal tahun 1963 berubah lagi pemikiran para tokoh Nahdlotul Ulama, Sekolah Dasar Nahdlotul Ulama kembali diberi nama “Madrasah Ibtidaiyah Nahdlotul Ulama” kemudian sebagai Kepala Sekolah keenam Ibu Mursilah dari tahun 1963-1964, dan di tahun 1965 Bapak Muzamil Munif menjadi Kepala Sekolah ketujuh. Hal ini terjadi karena Bapak Moh. Luthfie yang sebagai Pegawai Negeri Sipil dipindah tugaskan.

 

 

 

  1. PERIODE XI (TH. 1966-1976)

 

Pada periode kesembilan ini kembali Bapak Moh. Luthfie diminta bertugas di Madrasah Ibtidaiyah Nahdlotul Ulama Batu dan diangkat sebagai Kepala Sekolah kedelapan selama periode 10 tahun.

Tahun 1970 situasi politik Indonesia yang dianggap oleh para tokoh Nahdlotul Ulama (MWC NU) tidak banyak menguntungkan Madrasah Ibtidaiyah Nahdlotul Ulama sehingga nama Madrasah berubah lagi menjadi “Madrasah Ibtidaiyah Chodijah”.

Tidak begitu lama nama ini disandang, pada hari Selasa Pahing tanggal 27 Juni 1972 atas permufakatan MWC NU Batu yang diketuai oleh Bapak Jamil, para pengurus serta Dewan Guru nama Madrasah diganti menjadi “Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum” yang terabadikan namanya sampai detik ini.

 

 

  1. PERIODE X (TH. 1976-1997)

 

Pada awal periode kesepuluh, Bapak Nafi’an, S.Ag. diangkat menjadi Kepala Sekolah selama kurang lebih 20 tahun. Selama tahun-tahun tersebut memberi banyak kenangan maupun kemajuan bagi MI Miftahul Ulum. Pada awal masa jabatan Bapak Nafi’an, S.Ag., hanya terletak di satu tempat yakni Jl. Agus Salim. Gedung sekolah pada saat itu hanya memiliki 6 bangunan ruang kelas yang memungkinkan pembagian jadwal murid masuk pagi dan masuk siang. Menjadi unik ketika satu kelas yang berukuran panjang 8 meter dan lebar 4,5 meter ditempati kurang lebih 40 murid untuk kegiatan belajar mengajar. Selain itu, pada tahun 1980-an, renovasi bangunan sekolah dilakukan atas usulan Bapak Nafi’an, S.Ag. Akan tetapi, jumlah bangunan masih kurang sehingga Bapak Kepala Madrasah mengusulkan untuk bertukar tempat dengan SMA Hasyim Asyari. Setelah 6 tahun pertukaran tempat, Pengurus Yayasan mampu membeli bangunan sekolah milik SD Muhammadiyah di Jalan Panderman seluas 360 m2. Dengan bertambahnya jumlah ruang kelas, SMA dan MI kembali bertukar tempat.

Pada akhir masa jabatan Bapak Nafi’an, S.Ag., Almaghfurullah Bapak H. Winurdi mewaqafkan sebidang tanah seluas 785 m2 yang terletak di Jalan Dorowati pada tahun 1991 karena jumlah murid MI semakin bertambah.

 

 

  1. PERIODE XI (TH. 1997-2003)

 

Pada periode kesebelas, Bapak Drs. Moh. Syafi’i diangkat sebagai Kepala Madrasah. Pada masa kepemimpinan beliau, MI telah memiliki cukup banyak murid dan fasilitas ruang kelas yang cukup akan tetapi masalah lain pun muncul, yakni bidang financial dan administrasi yang belum sepenuhnya siap. Akhirnya, masalah tersebut dapat teratasi atas kerjasama antara penyelenggara dan pengelola Madrasah.

Pada periode ini, beberapa kemajuan dapat diraih oleh MI Miftahul Ulum antara lain status “DIAKUI” berubah menjadi status “DISAMAKAN”, dari sistem administrasi Madrasah yang manual berkembang menjadi sistem administrasi yang komputerisasi online dengan managemen sentral, dan kemajuan di bidang akademik maupun non akademik.

 

  1. PERIODE XI (TH. 2003-2014)

 

Tahun 2003 merupakan awal dari periode pertama Ibu Hj. Azizah Ghufron, S.Pd.I diangkat sebagai Kepala Sekolah di MI Miftahul Ulum. Pada masa kepemimpinan beliau, MI Miftahul Ulum mengalami banyak perubahan yang cukup signifikan.

Pada awal kepemimpinan Ibu Hj. Azizah Ghufron, S.Pd.I pada tahun 2003, MI Miftahul Ulum masih bertempat di Jalan Agus Salim dan Jalan Panderman. Pada tahun pelajaran 2003/2004, terdapat perubahan sistem manajemen koperasi, jam efektif, keuangan, sarpras, dan juga peningkatan kerja sama dan silaturrohim antara keluarga besar MI Miftahul Ulum Kota Batu. Kemudian pada tahun 2004/2005 hingga 2006/2007, selain peningkatan sarana dan prasarana serta PBM, kualitas dari SDM guru dan pegawai, ekstrakurikuler hingga kedisiplinan serta kesejahteraan pun mulai ditingkatkan. Kemudian prestasi lainnya adalah hasil akreditasi pada tahun pelajaran 2004/2005 dari status “DISAMAKAN” menjadi “TERAKREDITASI A”. Selain itu, waqof gedung yang ada di Jalan Dorowati selesai dibangun tahun 2000 ditempati SMK Ma’arif selama 5 tahun dan di tahun 2005/2006 MI yang ada di gedung Jalan Panderman pindah ke gedung MI Jalan Dorowati yang saat itu memiliki 6 ruang. Sedangkan pada tahun 2007/2008, segala usaha yang telah dilakukan pada tahun-tahun yang lalu telah membuahkan hasil mulai dari prestasi para murid baik tingkat Kecamatan, Kota, Propinsi hingga Nasional, meningkatnya jumlah murid yang mencapai jumlah 538 murid. Selain itu, sarana dan prasarana yang meningkat dengan terwujudnya tambahan ruang kelas baru, ruang perpustakaan beserta fasilitasnya, peningkatan SDM berbagai Workshop dan pelatihan guru dan pegawai, serta beasiswa untuk guru serta karyawanpun telah dilaksanakan. Peningkatan kualitas guru dan karyawan tetap diperhatikan, mulai dari bidang kedisiplinan hingga kesejahteraan. Pada tahun ini pula MI Miftahul Ulum mulai menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, seperti ELOIS LAPIS UNISMA, LAPIS PGMI UNISMA, Penerbit Buku, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Depag, LP Al Ma’arif maupun Muslimat NU.

Pada tahun pelajaran 2008/2009, MI Miftahul Ulum kembali meraih berbagai prestasi dan meningkatan jalinan kerjasama dengan berbagai pihak. Jumlah muridpun bertambah hingga 544 murid. Kembali penilaian status Madrasah dilaksanakan dengan mengawali adanya 8 standar penilaian dan Alhamdulillahhasilnya adalah status “TERAKREDITASI A”.

Melangkah pada tahun berikutnya, yakni tahun pelajaran 2009/2010, MI Miftahul Ulum masih menunjukkan eksistensinya di bidang pendidikan apalagi dengan minat masyarakat yang meningkat untuk memasukkan putra-putrinya untuk bersekolah di MI Miftahul Ulum. Jumlah muridnya mencapai 553 murid.

Pada tahun pelajaran 2010/2011 merupakan periode kedua dari kepemimpinan Ibu Hj. Azizah Ghufron, S.Pd.I sebagai Kepala Madrasah. Tahun ini tercatat sebagai puncak keberhasilan MI Miftahul Ulum Kota Batu. Terbukti dengan adanya kesempatan bagi Kepala Madrasah dan dua Dewan Guru untuk mengikuti workshop dan studi banding tingkat internasional di Australia. Di bidang sarana dan prasaranapun mengalami peningkatan dengan adanya penambahan ruang multimedia, tambahan bangku murid serta meja guru dari Dinas Pendidikan. Demikian pula berbagai workshop yang dilaksanakan oleh Kementerian Agama Pusat bekerja sama dengan LAPIS Integrasi Program AUSAID yang diikuti oleh guru dan pegawai MI Miftahul Ulum Kota Batu. Selain itu, para murid pun menunjukkan prestasinya pada berbagai lomba di tahun 2010.

Pada tahun kedua ini, 2011/2012, prestasi MI Miftahul Ulum semakin meningkat, terbukti dengan meningkatnya jumlah murid yakni 592 murid dan di tahun 2012/2013 bertambah menjadi 610 murid. Selain itu, adanya penambahan dua ruang kelas yang didanai oleh pihak sekolah juga menunjukkan bahwa MI Miftahul Ulum telah menunjukkan prestasi tidak hanya dalam bidang akademis akan tetapi juga bidang-bidang lainnya.

Sebagai catatan bahwa pada periode Ibu Hj. Azizah Ghufron, S.Pd.I, MI Miftahul Ulum telah mengalami berbagai perubahan yang sangat signifikan. Berbagai prestasi yang diraih tidak hanya pada kualitas murid maupun guru dan pegawai akan tetapi penambahan berbagai sarana prasarana seperti ruang perpustakaan beserta fasilitasnya, ruang multimedia dengan komputer dan penunjangnya seperti LCD, penambahan beberapa ruang kelas, ruang UKS, ruang Kepala Sekolah, ruang BK, kantin dan koperasi, serta taman yang memiliki koleksi tanaman obat (Green House) dan program Hidup Sehat, serta ruang DOMM (lapangan serba guna).

Tahun 2013-2014 merupakan tahun terakhir periode kepemimpinan Ibu Hj. Azizah Ghufron, S.Pd.I. Alhamdulilah berbagai peningkatan terlaksana dengan baik mulai dari bidang Sarana dan Prasarana, seperti: bangku, lemari piala, pemasangan keramik dinding kelas, LCD proyektor, pengadaan laptop, sound sistem, perbaikan taman sekolah, dan lain-lain. Kemudian, tercapainya prestasi di bidang akademik maupun non akademik, mulai dari tingkat kota hingga propinsi, seperti berbagai olimpiade, ajang perlombaan olah raga hingga PORSENI MI se-Jawa Timur. Selain itu, mulai tahun ajaran ini terdapat penambahan 3 (tiga) orang guru yang tersertifikasi. Berbagai peningkatan pada berbagai bidang pada tahun ajaran ini menunjukkan bahwa kepemimpinan Ibu Hj. Azizah Ghufron, S.Pd.I terus memberikan inovasi dan kemajuan bagi MI Miftahul Ulum Kota Batu.

13. PERIODE X (2014 – sekarang)

Pada periode ini, MI Miftahul Ulum Batu di bawah kepemimpinan Bapak Suparsi, S,Pd mengalami banyak perubahan yang cukup signifikan, khususnya dalam hal jumlah siswa dan penambahan ruang kelas baru. Selain itu, MIMu juga memulai program baru yakni program BTQ sebagai program wajib bagi seluruh siswa. Diharapkan agar siswa MIMU dapat membaca dan menulis Al Quran dengan lancar setelah lulus dari madrasah ini.